Event

INDISCHE GROENTEN (SAYURAN PADA MASA HINDIA BELANDA)

Post Wed, 09 May 2018 08:46 WIB

     Dibanding dua Kelas Literasi sebelumnya, mungkin inilah KL yang berlangsung paling meriah. Mungkin berhubungan dengan pembawaan Arifin Surya Dwipa Irsyam yang sebelumnya sudah sering menjadi narasumber untuk kegiatan salah satu divisi Komunitas Aleut, yaitu Indische Mooi. 
 
     Pembawaan yang santai dan pengetahuan yang luas tentang tumbuh-tumbuhan berhasil mencairkan suasana dengan cepat walaupun jumlah peserta mencapai 50 orang. Tema yang dibahas terdengar cukup unik, “Indische Groenten; Sayuran pada Masa Hindia Belanda” dan berhasil memancing kepenasaran para peserta. Apakah ada perbedaan sayuran di masa kini dengan masa Hindia-Belanda? Seberapa besar perbedaannya dan hal apa saja yang menyebabkan perbedaan tersebut. 

     Arifin atau yang biasa dipanggil Ipin oleh kawan-kawannya membuat presentasi sebanyak 32 halaman berisi berbagai informasi yang disarikan dari buku “Indishe Groenten” karya J.J. Ochse yang diterbitkan di Groningen pada tahun 1931. Selain itu, Ipin juga membawa sejumlah contoh tumbuhan bahan lalapan yang sudah tidak terlalu populer tapi sebetulnya dapat dengan mudah ditemukan di sekitar kita, seperti antanan, pucuk kedondong, bongborosan, calingcing, baluntas, jinten, huni, jukut carulang, jotang, kastuba, pucuk karet munding, loa, dlsb. 
 
     Beberapa jenis tumbuhan memang tidak biasa dijadikan makanan sekarang ini, namun pada masa Hindia-Belanda dahulu, ketika kemiskinan melanda di banyak daerah, banyak warga pribumi yang mencari makanan dengan cara mencoba mencicipi berbagai tumbuhan yang ada. Oleh sebab itu bisa terjadi ada sejenis rumputan yang ternyata dapat dimakan seperti jukut carulang atau bunga pohon besar seperti karet munding dan kedongdong yang ternyata rasanya tidak kalah enak dibanding berbagai jenis lalapan yang masih biasa dikonsumsi hingga sekarang.